Mengubah Kurikulum, Terus?

Sejak ikut turuntangan, saya jadi semakin banyak tahu tentang pemikiran seorang Anies Baswedan. Salah satu pemikiran Anies Baswedan yang menarik menurut saya adalah tentang pendidikan. Meski Anies Baswedan secara khusus tidak pernah belajar di jurusan pendidikan, saya merasa Beliau punya gambaran yang jelas bagaimana seharusnya proses pendidikan dilaksanakan. Bisa jadi itu efek dari Ibu Aliyah yang merupakan salah satu guru besar di UNY. Jadi, meskipun tidak pernah mengambil jurusan pendidikan di perkuliahan, beliau sudah sering belajar langsung melalui contoh bagaimana seorang Ibu Aliyah mendidik Anies Baswedan sehingga bisa menjadi seperti sekarang.

Bicara masalah pendidikan, dalam beberapa tahun terakhir ini, pendidikan mengalami banyak sekali perubahan. Mulai dari wacana penggunaan hasil UN sebagai instrumen seleksi masuk perkuliahan sampai masalah kurikulum 2013 yang masih sering menjadi perdebatan.

Posisi saya untuk masalah UN dari awal sudah jelas, saya menolak. Karena saya sudah merasakan sendiri bagaimana UN bisa mengubah pola pembelajaran di sekolah menjadi sekadar tempat les-lesan. Tapi di sisi lain, saya juga menghendaki UN tetap ada, bukan lagi sebagai instrumen penentu kelulusan, melainkan sebagai instrumen pemetaan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, untuk masalah UN ini saya sepakat dengan teman-teman penggiat Bincang Edukasi; UN harus direposisi.

Dan untuk masalah kurikulum 2013, idenya sebenarnya menarik, tapi sayang sekali prakteknya masih tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dan berhubung saya belum membaca secara lengkap bagaimana kurikulum 2013, saya belum bisa menentukan posisi saya di mana tentang masalah kurikulum 2013 ini. Apakah akan mendukung atau menolaknya.

Sampai akhirnya pada waktu acara #MengadiliAnies pada hari Sabtu, 5 April 2014, ada yang menanyakan bagaimana tanggapan seorang Anies Baswedan terhadap kurikulum 2013. Dan jawaban beliau kemudian membuat saya tercerahkan. Kurang lebih begini inti jawaban beliau tentang kurikulum 2013.

Yang perlu ditingkatkan itu skill penembaknya, bukan (hanya) mengubah tembak atau pelurunya.

Dan saya pikir jawaban seperti ini luar biasa. Karena sampai saat ini saya selalu yakin, bahwa analogi adalah salah satu cara menjelaskan yang paling luar biasa yang bisa kita lakukan. Karena analogi merangsang daya nalar sekaligus imajinasi di waktu yang bersamaan. Bahkan kalau kalian perhatian, ada banyak sekali penjelasan dalam Al-Quran yang diawali dengan kata ‘mitsal’, ‘matsal’, atau sepadannya yang berarti perumpaan.

Yang perlu ditingkatkan adalah kualitas tenaga pengajarnya, bukan sekadar mengubah kurikulumnya. Kurang lebih itulah pesan yang ingin Anies Baswedan berikan melalui analogi di atas. Kurikulum memang penting, tapi ketika kualitas gurunya masih belum memadai, kurikulum sebagus apapun tidak akan memberikan banyak efek.

Dan kalau guru itu dianalogikan pelukis, mengubah kurikulum itu tidak lebih hanya mengubah merk cat dan kuas. Mau sebagus apapun kuas dan catnya, kalau skill pelukisnya biasa-biasa saja ya hasilnya nggak akan maksimal. Bukan begitu, kawan?

Mestinya pemerintah cukup fokus pada peningkatan dan pemerataan kualitas guru dulu. Karena ketika gurunya berkualitas, mau dikasih kurikulum seperti apapun pasti bisa menyesuaikan. Pelukis yang berkualitas, bahkan tanpa cat dan kuas pun bisa melukis dengan bagus. Karena mereka bisa berimprovisasi menggunakan benda lain sebagai alat. Menumbuhkan kreativitas, profesonalitas, dan keuletan untuk mampu berimprovisasi dengan segala macam kondisi dan keadaan pada setiap guru, inilah yang harus pemerintah segera cari solusinya.

Jadi, untuk masalah kurikulum 2013, saya sepakat dengan Anies Baswedan. Mengubah kurikulum tidak terlalu banyak membawa perubahan ketika kualitas gurunya tidak ditingkatkan. Maka dari itu, peningkatan dan pemerataan kualitas gurulah yang harus menjadi fokus utama di bidang pendidikan.

Guru
© aniesbaswedan.com

Salam,
Ayo turuntangan! 🙂

Advertisements

23 thoughts on “Mengubah Kurikulum, Terus?

  1. Mahasiswa

    “Pelaut yang Handal Tidak Lahir dari Laut yang Tenang”
    Gimana kualitas guru mau naik kalau pengennya hidup di zona nyaman.

    1. Benar sekali. Tapi kalau kapalnya bocor di sana sini, ya masa, dipaksa buat memakai kapal yang bocor tersebut?

      Bukankah lebih baik diperbaiki dulu kapalnya sebelum dibuat melaut ke lautan luas?

      Karena pelaut yang handal sekalipun tidak akan bisa bertahan jika kapal yang digunakan bocor di sana sini.

  2. OPINI

    kemampuan dan kesadaran yang baik untuk meningkatkan kualitas diri guru demi tercapai tujuan pendidikan yang cerdas dan berakhlak mulia bagi anak didik, K.13 BBM (Benar-Benar Membingungkan)

  3. saya setuju sekali dengan pa menteri, selama yang saya rasakan dalam melaksanakan kurikulum 2013 ini adalah guru terlalu disibukkan untuk memberikan penilaian hingga pada akhirnya tujuan utama guru untuk mendidik siswa tidak terlaksana. Padahal menurut saya nilai bukan sebagai indikator berhasil tidaknya kita mendidik siswa. Jadi tolong pak menteri kaji ulang kembali pelaksanaan kurikulum 2013 ini karena terlalu memberatkan bagi guru dan siswa. terima kasih

  4. Menanggapi statement Bp Mentri tentang kurikulum 2013, sungguh membuat saya jadi lega saya setuju tingkatkan dulu kualitas gurunya, karena guru ujung tombak penentu kualitas pembelajaran bukan kurikulum, sebagus apapun kurikulum 2013, hanya membuat guru jadi bingung, karena kualitas guru kita belum siap

  5. Menanggapi statement Bp Mentri tenang kurikulum 2013, sungguh membuat saya jadi lega saya setuju tingkatkan dulu kualitas gurunya, karena guru ujung tombak penentu kualitas pembelajaran bukan kurikulum, sebagus apapun kurikulum 2013, hanya membuat guru jadi bingung, karena kualitas guru kita belum siap

  6. sunarwohadi

    Setuju.Kurikulum bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan pendidikan. Namun seorang guru yang mampu menjiwai tugasnya sebagai seorang guru, bertanggung jawab terhadap tugasnya,memiliki keinginan untuk selalu memberikan yang terbaik bagi muridnya maka pendidikan akan berhasil.

  7. masbud

    Sependapat dengan Pak Menteri… yang perlu dibenahi sebenarnya adalah guru (kualitasnya, pemerataannya, mentalitasnya,…dll… dlll)… Bukan kurikulum…. berapa yaa uang rakyat yang dihabiskan untuk kurikulum 13? Coba cermati, bagaimana kurikulum 13 “lahir”, bagaimana uji cobanya, bukunya, bagaimana evaluasi pelaksanaannya selama ini, sosialisasinya, pemahaman guru tentang kurikulum 13, juga pemahaman para “narasumber kurikulum sendiri”, hasilnya? Hmmm….

  8. Ruwaidah Idrus Aliyu

    ya…..fokuskan saja dulu pada skilll pendidik sehingga bisa memanfaatkan konten lokal.jika guru profesional ia pasti mengatakan “TAK ADA BATANG,AKARPUN JADI”sy terinspirasi dengan pola UNICEF kemarin dengan sistem pemodelan,pendampingan dan ada tindaklanjut.YUk kita kerja dengan ikhlas.

  9. nafiko

    kalau ingin pendidikan bagus bikin gurunya menjadi aman, nyamandan tenang jangan beri beban administrasi yang seabrek. sehingga bisa konsen dengan ide – ide segarnya untuk mengembangkan pembelajaran

  10. enjah

    Memang dari dulu saya salah seorang yang tidak mengharapkan pergantian kurikulum, apa pun kurikulumnya 2 + 2 = 4 . Yang perlu diubah adalah prosesnya, gurunya, dan kebijakan pemerintah untuk memotivasi mensejahterakan guru sehingga guru mampu membuat proses 2 + 2 yang menarik dan menantang siswa. Apalah arti perubahan kurikulum yang seperti 2013 itu hanya penghamburan Uang Negara, mending kalau bukan pinjaman luar negeri, gimana jika dananya itu dari pinjaman? Itu [emborosan…..

  11. joko

    Pak Anis, semangta kerja yah
    Diindonesia permasalahan pendidikan itu banyak sekali, kita lihat masih banyak wilayah indonesia yang tidak terjangkau internet, tidak ada perpustakaan apalagi lab ipa atau lab komputer, tidak ada toko buku, antar satu rumah kerumah yang lain jauh, tidak ada kendaraan umum, gurunya yang merangkap beberpa pelajaran, dengan kondisi seperti tidak mungkin memberikan kemandirian kepada siswa seperti yang diinginkan kurikulum 2013. Sebagus apapun kurikulum kalau kondisinya seperti ini tidak akan tercapai.

  12. masbud

    Betullll…. sementara ini yang “digarap” kurikulumnya dengan berjuta teori dan andaikata…. bila gurunya sami mawon yaaa… hanya melaksanakan program (jangan dibaca proyek lho) … Untuk perubahan, nanti dulu… untuk Kurikulum 2013, berapa dana yang sudah dikeluarkan? Hasilnya, tentu saja baik,… menurut laporan. Kenyataannya… nanti dulu. Check aja oleh “pengecheck independen”… langsung di sekolah-sekolah. Ayo Pak Anies… kerja… kerja… kerja. (Jangan laporan… laporan… laporan)

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s