Balada Pencitraan

Ada beberapa fenomena yang menarik di sepanjang proses kampanye pemilihan presiden tahun ini. Salah satunya adalah semakin maraknya perilaku menghakimi niat dari tindakan seseorang.

Entah sejak kapan kita mulai akrab dengan istilah pencitraan. Istilah pencitraan sendiri sebenarnya bukanlah sebuah aktivitas yang negatif. Karena kalau diterjemahkan secara harfiah, pencitraan tidak lain adalah aktivitas membangun citra, yang biasa kita kenal sebagai branding.

Jauh sebelum istilah pencitraan ini booming, aktivitas pencitraan sudah sering dilakukan oleh berbagai macam perusahaan untuk mengenalkan produknya kepada masyarakat. Mulai dari menggunakan tagline, menggunakan logo, maskot, menggunakan iklan, itu semua adalah contoh pencitraan yang dilakukan oleh perusahaan.

Tapi itu semua berubah ketika negara api menyerang Jokowi menjadi gubernur Jakarta dan semakin sering muncul di TV. Dan semenjak Jokowi semakin sering menghiasi pemberitaan di berbagai macam media massa, pelan tapi pasti, kata pencitraan pun mulai mengalami pergeseran makna. Dari yang sebelumnya digunakan untuk membentuk citra diri dan perusahaan sekarang lebih sering digunakan untuk menyebut aktivitas yang sifatnya hanya mencari perhatian saja.

Kalau memang Jokowi sering diberitakan, mestinya yang kita kritik adalah media massanya, bukan Jokowi. Karena menurut saya, berdasarkan keterangan dari teman-teman saya yang tidak suka Jokowi, sebenarnya yang kita benci adalah medianya. Namun berhubung Jokowi yang sering diberitakan, jadi mau tidak mau Jokowi yang jadi sasaran tembak kita. Maka dari itu, saya sempat berandai-andai kalau saja Jokowi blusukan tanpa ada wartawan yang mengikuti mungkin kita tidak pernah begitu benci dengan istilah blusukan dan pencitraan.

Diakui atau tidak, sejak dulu, media massa kita (terutama stasiun TV swasta) memang terlalu Jakarta-sentris. Porsi pemberitaan media massa kita dari dulu memang tidak pernah berimbang. Makanya tidak mengagetkan kalau masyarakat kita lebih paham dengan masalah yang terjadi di Jakarta daripada masalah yang ada di daerahnya.

Jokowi adalah manusia biasa. Saya tidak sepakat kalau ada yang menyebut Jokowi lepas dari kesalahan. Jokowi punya banyak kekurangan selama menjadi pemimpin? itu memang benar. Tapi masalahnya, kalau Jokowi memang kinerjanya kurang benar, kita kritik saja kinerjanya. Bukan malah menuduhnya pencitraan dan semacamnya. Karena itu semua budaya yang sama sekali tidak membangun. Malah sebaliknya, bangsa kita semakin lama akan melakukan tuduhan ini itu kepada saudara sebangsanya sendiri. Dan tanpa disadari, budaya menuduh akan semakin membuat bangsa kita kontra-produktif pada akhirnya.

Terlepas dari pencitraan atau tidak, Jokowi telah membuktikan bahwa dia telah bekerja. Karena kalau Jokowi tidak bekerja selama jadi walikota, tidak mungkin banyak orang Solo merasa puas atas kinerjanya dan perolehan suaranya ketika pilwali Solo untuk masa jabatannya yang kedua bisa sampai 90% lebih.

Aktivitas blusukan Jokowi yang selama ini sering disebut hanyalah sebuah pencitraan semata oleh beberapa orang, saya sendiri malah mengapresinya. Kalau bisa, menurut saya blusukan ini seharusnya dijadikan semacam undang-undang untuk pemerintah daerah setingkat bupati atau walikota. Karena sudah semestinya pemerintah terjun langsung untuk mengetahui masalah sekaligus menampung aspirasi yang ada di masyarakat.

Sejujurnya, saya bersyukur karena pemilu kali ini mengajarkan saya telah mengajarkan saya banyak hal. Salah satunya adalah mengajarkan saya untuk lebih rasional lagi dalam berpikir. Sebagai manusia, kita tidak pernah bisa menilai niat seseorang. Satu-satunya yang kita bisa lakukan sebagai manusia adalah menilai tindakannya, bukan niatnya.

Dan seperti kata Pak Iwan melalui status FB beliau, saya tidak ingin adik atau anak saya nanti mengalami hal seperti ini:

balada pencitraan
balada pencitraan | © fb Pak Iwan

 

Ketika berbuat baik selalu dituduh melakukan pencitraan, percayalah, akan tiba saatnya kita akan semakin enggan untuk berbuat kebaikan.

Advertisements

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s