Membuka Peluang Iuran

Hari ini saya berkesempatan untuk kembali bertatap muka dengan Pak Anies Baswedan. Tidak lama sih, cuma sekitar 45 menit. Tapi meskipun sebentar, sebagaimana pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan Pak Anies Baswedan, selalu ada hal yang menarik untuk dibagikan.

Secara umum, dalam pertemuan yang singkat tadi siang, Pak Anies Baswedan masih membicarakan hal yang selama ini menjadi perhatiannya: mengatasi masalah sosial dengan urunan dan membudayakan gerakan. Dan di sela-sela itu, Pak Anies Baswedan juga sempat menyinggung soal Perpustakaan Asuh yang kemudian lebih banyak dikenal sebagai Indonesia Menyala.

Selama ini saya hanya tahu bahwa Indonesia Menyala adalah sebuah gerakan yang bertujuan untuk mengembangkan perpustakaan di banyak daerah (khususnya daerah yang menjadi tempat penempatan pengajar muda gerakan Indonesia Mengajar). Dan setelah Pak Anies Baswedan menjelaskan secara rinci, saya jadi agak paham bagaimana behind the scene yang ada di gerakan Indonesia Menyala.

Selama ini, saya berpikir bahwa buku-buku yang berhasil dikumpulkan oleh relawan yang ada di banyak kota, dikirimkan menggunakan pos atau semacamnya dengan biaya sesuai dengan berat buku yang dikirimkan, sebagaimana yang biasa kita tahu. Tapi ternyata untuk Indonesia Menyala, kondisinya tidak seperti itu. “Anda mungkin tidak pernah tahu kalau semua buku yang dikirimkan untuk gerakan Indonesia Menyala ini bebas biaya. Pihak JNE tidak mau dibayar jika kita mengirimkan buku untuk tujuan sosial (non-komersial). Dan hebatnya lagi, mereka tidak juga tidak mau diberikan ucapan terima kasih secara tertulis atau semacamnya,” kata Pak Anies Baswedan.

Saya yang baru tahu kalau semua buku yang dikirimkan ke daerah itu tidak dipungut biaya sama sekali mendadak takjub dan merasa bahagia. Ternyata perusahaan sekelas JNE pun mau membantu jika memang dibutuhkan. Semangat turun tangan dan gotong royong yang selama ini kita pikir sudah hilang ternyata masih ada, kawan.

“Belajar dari fenomena ini, maka dari itu, mulai sekarang, ketika kita bikin proposal kegiatan atau semacamnya, jangan rupiahkan semua kebutuhan. Tulis saja apa yang diperlukan. Kalau memang butuh tempat, ya tulis saja butuh tempat. Kalau memang butuh kertas, tulis saja butuh kertas. Dengan begitu, peluang bagi orang-orang yang ingin membantu sesuai dengan apa yang mereka miliki akan semakin terbuka. Ketika semua kebutuhan kita rupiahkan, maka yang terjadi, kita akan kesulitan mencari dana. Padahal sebenarnya yang kita butuhkan bukan hanya dana,” lanjut Pak Anies Baswedan.

“Pernah suatu saat, ketika kami butuh sarana transportasi di beberapa lokasi, ada orang yang membantu meminjamkan kendaraan pribadinya selama sebulan penuh. Bukankah hal semacam ini sangat luar biasa? Semangat urunan dan gotong royong inilah yang seharusnya kita pupuk dan kita budayakan,” tutup menteri pendidikan dan kebudayaan di kabinet kerja ini dengan meyakinkan.

Sejenak saya berpikir, mungkin inilah alasan kenapa dulu Indonesia Mengajar bukannya melakukan rekrutmen fotografer secara tertutup, tetapi mengumumkan bahwa  dibuka kesempatan bagi relawan fotografer untuk meliput kegiatan pengajar muda di lokasi penempatan. Dan setelahnya, dibukanya kesempatan bagi relawan fotografer ini kemudian diduplikasi ke dalam gerakan Kelas Inspirasi.

Satu yang perlu kita garis bawahi, memberi tahu apa yang kita butuhkan, secara tidak langsung, juga membuka kesempatan untuk membuat orang terlibat ikut turun tangan dan ikut iuran berdasarkan apa yang mereka miliki.

Ngomong-ngomong, saya lagi butuh pendamping hidup semangat nih, ada yang bisa bantu? 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Membuka Peluang Iuran

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s