Kenapa Salah Jurusan?

Memilih jurusan mungkin adalah salah satu momen tersulit dalam hidup yang dialami oleh hampir seluruh siswa SMA. Kalau nggak percaya, silakan tanyakan kepada mereka yang saat ini duduk di kelas XII. Pasti sebagian besar di antara mereka masih belum yakin akan melanjutkan ke mana setelah lulus SMA.

Bahkan sampai saat ini saya sangat yakin, kalau dilakukan survei, lebih dari 50% siswa SMA kelas XII kebingungan ketika ditanya akan meneruskan ke mana nantinya. Sisanya mungkin masih banyak yang belum yakin, tapi minimal sudah punya gambaran bakal ngapain. Mengapa saya bisa berpikir seperti ini? sederhana saja. Karena ada banyak sekali anak SMA yang bertanya melalui kolom komentar di tulisan-tulisan saya. Itu membuktikan kalau dari dulu sampai sekarang masalah anak SMA itu sama: bingung mau melanjutkan ke mana.

Padahal kalau kita telusuri lebih jauh lagi, masalah ini mungkin sudah ada sejak 20 tahun lalu, atau bahkan lebih dari 50 tahun lalu ketika Indonesia pertama kali mengenal pendidikan tinggi. Dan saya yakin, masalah ini akan tetap terus ada selama pendidikan kita masih seperti sekarang. Di mana waktu kita di sekolah jauh lebih banyak daripada waktu kita untuk mengaktualisasikan diri.

Keberadaan kegiatan ekstrakurikuler memang bisa sedikit membantu para siswa untuk mengaktualisasikan diri mereka di sekolah. Tapi itu saja tidak cukup. Menemukan minat, bakat, dan potensi diri itu perlu banyak waktu. Berharap pada mata pelajaran BK? lupakan saja, mata pelajaran BK yang seringkali cuma 2 jam seminggu tidak akan membantu. Karena tidak ada rumus pasti untuk menemukan minat, bakat, dan potensi diri. Oleh karenanya, salah satu cara untuk menemukannya adalah dengan mencoba sebanyak mungkin aktivitas. Sampai akhirnya kita menemukan aktivitas yang benar-benar kita nikmati setiap prosesnya.

Ada yang bilang bilang bingung mau melanjutkan ke mana setelah SMA itu penyebab salah jurusan di perkuliahan. Itu tidak sepenuhnya benar. Bingung mau melanjutkan ke mana itu bukan hanya sebab, tapi juga akibat. Sebabnya adalah karena kita tidak tahu apa minat, bakat, potensi, dan passion yang kita miliki. Sejak kita kecil kita selalu dituntut untuk mempelajari banyak hal, kecuali satu: mempelajari diri kita sendiri. Saking banyaknya materi yang harus kita pelajari di sekolah, kita jadi tidak punya cukup waktu untuk mengenal diri kita sendiri.

Oleh karenanya saya tidak pernah sepakat dengan gagasan full day school. Karena yang dibutuhkan oleh anak-anak sekolah bukanlah tambahan jam belajar. Tapi waktu luang untuk mengerjakan aktivitas yang mereka sukai, untuk mempelajari hal-hal yang benar-benar membuat mereka tertarik dan penasaran. Karena rasa penasaran adalah bahan bakar utama dalam proses pembelajaran. Biarkan mereka sibuk mengobati rasa penasaran mereka pada ilmu pengetahuan dengan cara mereka sendiri. Mereka sudah terlalu banyak belajar tentang banyak hal, kecuali tentang diri mereka sendiri.

Sejujurnya saya kadang merasa sedih melihat anak-anak SMA banyak yang kebingungan mau melanjutkan ke mana setelah lulus SMA. Karena saya pun pernah mengalami hal yang sama. Kita semua adalah korban sistem pendidikan yang terlalu mengedepankan hasil ujian daripada fokus membantu peserta didik untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Saking terobsesinya kita dengan nilai ujian, banyak di antara siswa sekolah dipaksa untuk mendapatkan les tambahan setelah sekolah.

Padahal kalau cuma untuk belajar matematika, belajar bahasa Indonesia, belajar sains, saya pikir itu semua bisa dipelajari sendiri oleh anak-anak sekolah. Apalagi di zaman teknologi informasi seperti sekarang ini. Hampir semua pertanyaan bisa dicari jawabannya melalui internet. Daripada menghabiskan banyak waktu untuk mengajarkan hal yang bisa dipelajari sendiri oleh siswa, bukankah lebih baik sekolah berfokus membantu siswa untuk menjawab hal-hal yang tidak bisa dicari jawabannya di internet. Seperti halnya mengenal minat, bakat, potensi, dan passion yang mereka miliki.

Karena faktanya, masalah bingung memilih jurusan ini terjadi setiap tahun. Tanpa pernah ada solusi. Kalaupun anak-anak sekolah tidak tahu apa minat, bakat, potensi, dan passion mereka, saya berharap anak sekolah, khususnya anak SMA punya cita-cita yang jelas mau jadi apa mereka setelah lulus SMA.

Karena kuliah itu ibarat bepergian dengan bus umum. Memilih jurusan itu sama halnya dengan memilih bus di terminal. Bus adalah jurusan kuliah, sedangkan cita-cita kita adalah tujuan dari bus. Jadi, kalau tidak tahu ke mana tujuan bus yang akan kita tumpangi, jangan kaget kalau di tengah jalan kita merasa salah jurusan.

Advertisements

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s