Tahu vs Mampu

xl4prjpkcle-mike-levad
photo by: Mike Levad

Suatu saat saya pernah berdiskusi dengan salah seorang teman saya mengapa meskipun sejak kecil kita diajarkan bahasa Inggris, namun sampai dewasa banyak di antara kita masih tergagap-gagap dengan bahasa Inggris. Bahkan cenderung menghindari kalau disuruh memilih. Saya pun begitu. Saya masih merasa kurang pede dengan kualitas bahasa Inggris saya. Oleh karenanya saya masih belum berani menulis artikel dalam bahasa Inggris meskipun sudah sejak lama punya keinginan untuk itu.

Dari pertanyaan tersebut, saya kemudian berpikir dan berasumsi bahwa ketidakmampuan kita (sebagian besar masyarakat Indonesia) menggunakan bahasa Inggris secara verbal atau tekstual salah satunya adalah karena pendidikan.

Mengapa pendidikan? karena materi pendidikan kita sejak awal didesain agar kita cukup tahu. Tidak harus mampu. Itulah yang saya rasakan dari apa yang saya alami dengan belajar bahasa Inggris di bangku sekolah mulai MI (setingkat SD) sampai dengan SMA. Para pengambil kebijakan di bidang pendidikan masih menganggap bahasa hanya sebagai pengetahuan, bukan kemampuan. Makanya tidak mengherankan kalau banyak guru bahasa Inggris yang hanya tahu bahasa Inggris, tapi tidak benar-benar mampu berbahasa Inggris. Karena memang  kurikulum pendidikan bahasa Inggris yang ada sekarang didesain agar kita cukup tahu. Tidak harus mampu.

Untuk soal pendidikan bahasa, saya pikir para pengambil kebijakan di bidang pendidikan harus belajar pada pendidikan di pesantren. Karena di pesantren bahasa tidak hanya diperlakukan sebagai pengetahuan, tapi juga diperlakukan sebagai kemampuan. Malah lebih jauh lagi, bahasa diperlakukan sebagai alat. Di banyak pesantren-pesantren besar, ilmu tata bahasa Arab itu disebut sebagai ilmu alat. Alat untuk apa? untuk memahami literatur-literatur agama Islam yang sebagian besar ditulis dalam bahasa Arab tentunya.

Inilah yang membedakan pola pembelajaran bahasa di sekolah dan di pesantren. Di sekolah, pelajaran bahasa seringkali dilepaskan dari pelajaran yang lain. Seingat saya, waktu sekolah dulu hampir tidak ada buku pelajaran berbahasa Inggris di sekolah (yang kemudian saya tahu alasannya karena itu memang diatur undang-undang). Di perpustakaan pun tidak banyak buku berbahasa Inggris kecuali memang buku pelajaran bahasa Inggris. Jadi, belajar bahasa menjadi tidak ada manfaatnya kecuali hanya untuk tahu kosa kata dan tata bahasanya. Berbeda halnya dengan di pesantren. Di mana pelajaran bahasa Arab seringkali disandingkan dengan ilmu lain yang menggunakan literatur berbahasa Arab. Dengan begitu, ilmu bahasa Arab yang sedang dipelajari pun bisa benar-benar dimanfaatkan dan diimplementasikan.

Maka tidak mengherankan kemudian kalau meskipun selama hampir 12 tahun di bangku sekolah saya sudah diajarkan bahasa Inggris, saya baru merasakan belajar bahasa Inggris yang sesungguhnya ketika masuk kuliah. Karena kuliah saya di teknik informatika sebagian besar literaturnya menggunakan bahasa Inggris, jadi mau tidak mau saya juga harus mulai terbiasa dengan bahasa Inggris.

Dan meskipun mata kuliah bahasa Inggris di ITS hanya 2 sks, terbukti selama kuliah kemampuan bahasa Inggris saya cukup mengalami peningkatan yang signifikan. Setidaknya itulah yang saya rasakan dan dikuatkan oleh hasil tes toefl saya di ITS yang mengalami peningkatan yang lumayan. Yang sebelumnya waktu maba skor TOEFL saya sekitar 443, menjadi 530 ketika mau wisuda. Meskipun masih jauh dari standar TOEFL beasiswa luar negeri, saya bersyukur karena selama kuliah, kemampuan bahasa Inggris saya (yang meskipun masih pasif) mengalami peningkatan.

Dari situ, saya jadi mulai belajar bahwa ada batas yang sangat jelas antara tahu dan mampu. Orang yang tahu bahwa cara bersepeda adalah dengan menjaga keseimbangan dengan terus mengayuhnya, belum tentu akan bisa menaiki sepeda kalau tidak benar-benar mengayuhnya. Sama halnya dengan itu, orang yang tahu cara berenang, belum tentu akan bisa berenang kalau tidak benar-benar menceburkan diri ke dalam air dan mempraktekannya.

Saya pun menjadi semakin yakin, bahwa untuk hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan, satu-satunya cara untuk menguasainya adalah dengan membiasakaannya. Itulah mengapa cara terbaik untuk menguasai sebuah bahasa adalah dengan tinggal dan berinteraksi langsung dengan orang-orang di tempat di mana bahasa tersebut biasa digunakan. Sebagaimana yang digunakan oleh para bayi untuk belajar bahasa.

Begitupun dengan kemampuan-kemampuan yang lain seperti halnya kemampuan logika, matematika, berpikir kritis, dan seterusnya. Satu-satunya rute untuk meningkatkan kemampuan-kemampuan tersebut adalah dengan melatih dan membiasakannya. Karena bukan hanya cinta yang bisa datang karena terbiasa, kemampuan juga.

Terakhir, tahu cara menulis dan mampu menulis dengan baik itu 2 hal yang berbeda. Dan saya memilih untuk kembali berusaha menjadi yang kedua. Dengan cara apa? dengan cara kembali membiasakannya.

Salam, kamuitubeda. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Tahu vs Mampu

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s