Suka vs Dipaksa

Photo by: Jordan Whitt
Photo by: Jordan Whitt

Dulu saya merupakan seorang yang sangat memegang teguh keyakinan bahwa untuk bisa sukses dalam bidang tertentu kita harus menyukainya dulu. Tidak ada cara lain selain itu.

Makanya saya tidak pernah suka dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak menarik minat saya atau tidak benar-benar saya suka. Dan mungkin karena itu pula orang tua saya tidak pernah memaksa saya untuk menempuh pendidikan di universitas tertentu atau memilihkan calon menantu ketika saya masih single dulu. Meskipun sebenarnya banyak sekali harapan orang tua saya kepada saya yang tidak sejalan dengan keinginan saya, pada akhirnya orang tua saya banyak mengalah karena tidak ingin membuat saya merasa tidak enak karena memaksa atau memilihkan saya sesuatu yang belum tentu saya suka. Yang pada akhirnya membuat saya menjadi sering merasa bersalah karena beberapa kali tidak bisa mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan saya.

Sampai masa kuliah, saya masih yakin bahwa untuk bisa sukses dalam suatu bidang, pertama kita harus benar-benar cinta dengan bidang tersebut. Sampai akhirnya saya mendengar cerita dari orang-orang di sekitar saya yang menurut saya cukup sukses menjalani pilihan-pilihan yang sebenarnya bukan keinginan mereka pribadi. Di tambah kisah dari orang-orang yang bisa bertahan lama menekuni bidang yang pada awalnya bukan kesukaan mereka tapi kemudian menjadi sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan mereka.

Dari situ saya mulai belajar satu hal bahwa yang sebenarnya menentukan kesuksesan seseorang itu sukses mungkin bukan sesederhana cara awalnya karena suka atau dipaksa. Tapi bagaimana sikap kita ketika sudah menjalaninya. Suka atau dipaksa itu cuma pintu. Masalah kenapa banyak yang merasa lebih sukses karena dari awal sudah suka itu bisa jadi karena mereka menjalani aktivitasnya dengan tanpa beban. Sementara yang dipaksa lebih sering menggerutu dan menyalahkan keadaan sehingga tidak bisa fokus mengerjakan apa yang semestinya dikerjakan.

Padahal kalau sebenarnya yang dipaksa bisa ikhlas dan fokus mengerjakan apa yang semestinya dikerjakan, bukan tidak mungkin, yang dipaksa pun bisa meraih kesuksesan sebagaimana orang yang sejak awal memang suka dengan apa yang dikerjakannya.

Itu yang saya pelajari ketika berinteraksi dengan teman-teman saya para penghafal Quran. Berdasarkan pengamatan saya, mayoritas para penghafal Quran yang hafalannya cepat selesai itu memang niat menghafalkannya dari diri sendiri sangat kuat. Sedangkan yang menghafalkannya bukan karena keinginan pribadi tapi lebih karena pengaruh orang lain atau karena ‘harapan’ orang tua, seringkali tingkat ketekunannya berbeda dengan yang benar-benar niat menghafalkannya berasal dari dirinya sendiri.

Tapi setelah saya perhatikan baik-baik, ternyata banyak juga teman-teman saya yang pada awalnya ‘dipaksa’ untuk menghafalkan oleh orang tuanya, seiring dengan berjalannya waktu mulai tumbuh niat pada diri mereka sendiri. Dan akhirnya pun mereka sangat tekun dan bisa menyelesaikan hafalan Qurannya dengan lancar dalam tempo waktu yang cukup singkat. Maka tidak mengherankan kalau kemudian salah satu guru mengajiku (berdasarkan keterangan dari anaknya) mempunyai prinsip: dipaksa, biasa, bisa, suka. Karena memang nyatanya banyak yang awalnya dipaksa untuk menghafalkan Quran dan akhirnya bisa hafal beneran.

Fenomena semacam ini sepertinya juga terjadi di dunia pernikahan. Memilih sendiri pasangan itu bukan jaminan bahwa pernikahan akan bisa lama bertahan dan berlangsung sesuai dengan yang diinginkan. Karena nyatanya di zaman dulu, meskipun pasangannya seringkali dipilihkan oleh orang tua toh buktinya angka perceraian tidak sebanyak zaman sekarang.

Jadi, mungkin benar asumsi saya bahwa suka atau dipaksa itu cuma pintu masuknya saja. Bagaimana sikap kita setelah memasuki pintu itulah perjuangan yang sebenarnya. Pintu masuk memang punya peran. Tapi yang paling menentukan bukanlah pintu mana yang kita lewati untuk memulai perjuangan, tapi seberapa besar niat dan kesungguhan kita dalam berjuang.

Karena seperti kata para orang bijak, siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan menemukan (kesuksesan).

Advertisements

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s