Perihal Keyakinan dan Tuhan

Baru-baru ini saya menonton Life of Pi yang bukunya sudah saya khatamkan beberapa tahun yang lalu. Dan ternyata filmnya juga sama bagusnya dengan bukunya. Meskipun sudah beberapa tahun yang lalu saya membaca bukunya, adaptasi filmnya tidak jauh berbeda dengan apa yang saya bayangkan ketika membacanya dulu.

Menyenangkan sekali menonton film seperti ini. Karena meskipun pesannya sangat dalam, semuanya disampaikan dengan cara tersirat. Jadi kita sebagai penonton yang harus menyimpulkan sendiri apa yang hendak disampaikan oleh pembuat filmnya.

Bagi saya sendiri, Life of Pi adalah sebuah karya filosofis tentang Tuhan dan keyakinan. Ada banyak sekali riwayat yang mendukung kebenaran agama-agama di dunia. Begitupun dengan Tuhan. Ada banyak sekali bukti kebesarannya yang kita temukan dalam keseharian.

Tapi pada akhirnya, tetap saja. Selama kita belum benar-benar mengamati dan mengalami, keyakinan kita hanya akan bersandar pada “katanya”. Kalau kita hanya berhenti pada “katanya”, tidak ada opsi lain bagi kita selain untuk mempercayai apa yang benar-benar kita percayai. Karena bisa jadi ada banyak versi “katanya” di dunia ini.

Kalau dalam kisah Life of Pi, keyakinan hanya dibagi menjadi dua macam. Keyakinan versi yang mengalami dan versi yang diceritakan, tapi kalau dalam ilmu tasawuf, setahu saya, level keyakinan itu ada 3 level: Ilmul Yaqin, Ainul Yaqin, dan Haqqul Yaqin.

Ilmul Yaqin adalah keyakinan yang bersumber dari ilmu pengetahuan. Keyakinan semacam ini bisa bersumber dari buku, cerita, ucapan, dan lain sebagainya. Yang jelas, keyakinan ini adalah keyakinan yang dibangun dengan mengandalkan sumber eksternal. Bukan berdasarkan pengamatan apalagi pengalaman. Kalau dalam Life of Pi, keyakinan seperti ini adalah keyakinan orang-orang yang mewawancari Pi. Jadi keyakinan mereka didasari oleh cerita.

Keyakinan versi yang kedua adalah Ainul Yaqin. Keyakinan yang masuk dalam kategori ini adalah keyakinan yang didasari oleh pengamatan langsung. Ibarat kecelakaan, meskipun kita tidak mengalami sendiri kecelakaannya, kita bisa yakin bahwa telah terjadi kecelakaan ketika kita melihat kejadiaannya langsung. Inilah yang disebut Ainul Yaqin. Yakin karena menyaksikan.

Dan level keyakinan yang selanjutnya adalah Haqqul Yaqin. Keyakinan yang mantap dari hati karena benar-benar mengalami dan merasakan sendiri. Kuncinya ada pada mengalami dan merasakan. Seperti halnya mencicipi makanan. Setebal apapun buku yang kita baca tentang coklat, tidak akan pernah membuat kita benar-benar tahu rasanya coklat.

Berangkat dari itu, keyakinan sudah semestinya tidak boleh dihakimi. Mau seaneh dan seabsurd apapun keyakinan itu. Karena keyakinan adalah pengalaman pribadi. Meskipun memakan coklat yang sama, bisa jadi penilaian kita akan coklat tersebut tidak akan sama.

Sama halnya dengan itu, meskipun sama-sama menonton film Life of Pi, bisa jadi penilaian saya tentang film Life of Pi akan berbeda dengan penilaian kamu. Bagaimana menurutmu?

Advertisements

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s