Smartphone Baru Untuk Mimpi Istri Yang Tertunda

Postingan ini saya khususkan buat istri saya yang sebentar lagi akan memasuki usia 1 tahun pernikahannya bersama saya. Semenjak menikah, istri saya telah menghabiskan sebagian besar waktunya buat keluarga. Meskipun saya sering membantunya untuk mencuci, memasak, dan mengurus bayi, porsinya sangat jauh berbeda dengan apa yang sudah istri saya kerjakan. Hampir semua pekerjaan rumah tangga di keluarga saya, istri saya yang mengerjakan. Sementara saya cuma sekadar bantu-bantu saja ketika sedang libur kerja atau ketika istri sedang tidak enak badan. Sejak menikah, saya sebenarnya membebaskan dia untuk bekerja, tapi dia lebih memilih untuk menetap di rumah saja. Salah satu alasannnya mungkin karena dia dulu langsung hamil jadi lebih memilih menjaga kesehatan bayinya saja dulu dan bekerja nanti kalau sang buah hati sudah agak dewasa.

Saya sebenarnya juga tidak pernah menyangka kalau orang yang baru saya kenal 2 tahun yang lalu ini akan menjadi istri saya. Kalau ditanya mengapa bisa cinta dia, saya juga tidak bisa menjawabnya. Karena saya memang tidak punya jawabannya. Yang jelas saya sayang dia. Tapi kalau disuruh menjelaskan secara detail faktor-faktor yang membuat istri saya begitu menarik di mata saya, mungkin beberapa ini di antaranya:

Dia Cantik
Begitulah kesan saya pada dia pertama kali bertemu dengannya. Dan setelah tahu kualitas dirinya, ternyata kecantikannya tidak hanya terletak pada paras wajahnya, tapi juga pada pemikiran, ucapan, dan tindakannya.

Dia Pandai
Bagi saya, kepandaian adalah salah satu daya tarik utama seseorang. Dan mungkin kepandaian juga yang membuat saya tertarik dengan istri saya. Sebagai catatan, kepandaian bagi saya bukan melulu soal nilai akademis. Nilai akademis itu penting, tapi bukan yang utama. Nilai utama dari kepandaian sebenarnya bukan terletak pada kepandaiannya saja, melainkan terletak pada pemikiran, kesungguhan, dan kegigihan di baliknya. Kalau rajin adalah pohon, maka pandai adalah buahnya.

Sejak masih di bangku sekolah, saya selalu suka dengan orang-orang yang pandai. Dan karena itu, saya dulu memutuskan untuk masuk di SMA favorit di kota kelahiran saya setelah sebelumnya di jenjang SD dan SMP saya bersekolah di sekolah swasta yang jumlah siswa per angkatannya hampir tidak pernah lebih dari 30. Sementara anak-anak lain ingin masuk sekolah favorit karena lulusannya banyak yang sukses, harapan saya dulu sederhana saja. Saya ingin berada di lingkungan orang-orang pandai dan punya teman-teman yang pandai. Dan alhamdulillah, ternyata berada di lingkungan orang-orang pandai sukses membuat saya termotivasi untuk menjadi pandai juga hingga akhirnya membuat saya bisa diterima di salah satu PTN terbaik di Surabaya ketika lulus SMA.

Dia Suka Bercanda
Saya selalu suka dengan orang-orang yang mempunyai selera humor yang tinggi. Dan mungkin ini pula yang membuat saya jatuh hati pada istri saya. Karena sejak pertama kali berkomunikasi dengannya, candaan-candaan saya selalu mendapat respon yang baik darinya. Sampai saat ini, saya masih meyakini bahwa kemampuan bercanda dan kesamaan selera humor adalah salah satu faktor utama dalam menjaga hubungan. Karena bercanda adalah salah satu bentuk komunikasi, dan komunikasi adalah kunci dalam menjaga hubungan. Ditambah lagi mempunyai selera humor yang baik juga akan membuat kita bisa mencairkan suasana ketika salah satu di antara kita dan pasangan sedang bad mood. Jadi, mempunyai selera humor adalah salah satu modal untuk menjaga hubungan baik.

Dia Suka Sepakbola
Meskipun bukan faktor signifikan, mempunyai pasangan yang sama-sama suka sepakbola setidaknya membuat saya mempunyai topik tambahan untuk sekadar basa-basi dan saling bully layaknya penggila sepakbola pada umumnya. Apalagi tim yang kami dukung berada di liga yang sama. Kabar buruknya, tim favorit saya di musim ini kembali terpuruk, sedangkan tim yang dia sukai sementara ini nyaman berada di puncak klasemen. Jadi untuk sementara ini saya harus sabar menerima bully karena tim favorit saya lebih sering kalah.

Dia Berpikiran Terbuka
Meskipun dibesarkan dalam keluarga yang sangat-sangat konservatif, saya lebih nyaman untuk bergaul dengan orang-orang yang berpikiran terbuka. Karena keterbukaan pikiran bagi saya adalah salah satu bukti nyata proses pendidikan. Semakin banyak yang kita pelajari, kita akan lebih mudah memahami, bukan menghakimi. Karena sejak dulu saya ingin keluarga saya nantinya menjadi keluarga yang lebih mengedepankan upaya memahami, bukan menghakimi, maka dari itu, salah satu modal awalnya adalah dengan mempunyai pasangan yang berpikiran terbuka.

Dia Membuat Saya Menjadi Pribadi yang Lebih Baik
Sebelum menikah, saya adalah pribadi yang suka menaruh barang secara berantakan dan suka menunda, istri saya sebaliknya. Dia orangnya sangat rapi dan tidak bisa santai sebelum apa yang menjadi tanggung jawabnya selesai. Oleh karena itu, dia sering memarahi saya. Dan meskipun saya tidak jarang saya merasa kesal ketika dimarahi karena sesuatu yang saya anggap biasa, sejujurnya saya sangat bersyukur karena punya istri seperti dia. Karena di balik kemarahannya, sesungguhnya dia hanya ingin saya menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya.

Dia Pengertian
Semenjak punya anak, jam tidur istri saya semakin tidak menentu karena anak bisa terbangun sewaktu-waktu. Meskipun sebenarnya bisa saja dia membangunkan saya untuk membantu dia mengurus anak (mengganti popok, menggendong, dlsb.), dia lebih memilih untuk melakukan semuanya seorang diri ketika anak saya terbangun di malam hari. Sambil tetap membiarkan saya tidur karena sudah capek oleh pekerjaan di kantor seharian. Dan saya merasa sangat bersyukur karenanya.

Dia Pejuang
Mengutip ucapan salah satu guru saya, hanya orang-orang punya nyali yang akan memilih jalan mendaki. Dan seperti yang sudah saya jelaskan di bagian awal, saya sangat menghormati orang-orang yang punya daya juang tinggi. Istri saya salah satunya. Salah satu yang paling membuktikan itu adalah ketika dulu waktu masih kuliah semester 5, sementara dia bisa nyantai hanya dengan menjalani kuliah di salah satu PTN di Surabaya dan aktif di organisasi, dia memilih untuk menambah tanggung jawabnya dengan menghafalkan AlQuran.

Dia Mau Memperjuangkan Mimpinya Bersama Saya
Ini yang paling penting. Karena mau sepandai apapun dia, mau selucu apapun dia, sepengertian apapun dia, kalau dia tidak mau dengan saya, rasa sayang saya kepada dia tidak akan ada artinya. Mau menjadi istri saya berarti mau memperjuangkan mimpi-mimpinya bersama saya. Inilah yang membedakan istri saya dengan perempuan-perempuan lain. Karena perempuan lain bukan istri saya, maka tidak mungkin saya akan menyayangi mereka. 🙂

Dia Ibu dari Anak Saya
Saya sangat menyayangi anak saya. Setiap kali saya merasa capek sepulang kerja, begitu melihat anak saya bisa tersenyum atau tidur dengan tenang, rasanya semua rasa capek terbayarkan dan mendadak hilang. Karena dia adalah orang yang sudah mengandung dan melahirkan anak saya, sudah semestinya saya akan sangat menghormati dan menyayanginya.

Meskipun sampai sekarang saya masih menganggap bahwa seorang ibu harus mencurahkan sebagian besar waktunya buat keluarga, khususnya buat mendidik anak-anak, saya juga meyakini bahwa seorang ibu harus punya pendapatan sendiri. Mungkin pendapat ini agak janggal karena selama ini orang-orang yang beranggapan bahwa ibu harus menghabiskan waktu buat keluarga itu seringkali tidak setuju jika perempuan (ibu) juga bekerja dan punya pendapatan sendiri. Belum lagi kedua pendapat tersebut terkesan berlawanan. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa mendapatkan pendapatan sendiri jika sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah?

Kebanyakan orang yang menganggap 2 hal tersebut tidak mungkin dilakukan mungkin lupa bahwa kita sudah berada di abad ke-21. Bukan lagi berada di zaman Siti Nurbaya yang harus mengorbankan cinta demi gengsi keluarga, dan bukan di zaman Kartini yang harus berjuang setengah mati untuk bisa mendapatkan pendidikan yang menjadi haknya. Disadari atau tidak, kemajuan teknologi informasi di abad ke-21 ini telah membuka banyak pintu yang sebelumnya tidak pernah ada. Kini, dengan banyaknya media sosial dan berkembangnya situs-situs e-commerce, menjadi ibu rumah tangga dan punya pendapatan sendiri sangat mungkin untuk dilakukan.

Dan Istri saya adalah salah satu orang yang ingin memanfaatkan kemudahan yang sudah dihadirkan oleh kemajuan teknologi informasi dengan merintis usaha kecil-kecilan dengan jualan pakaian muslimah. Namun sayangnya, niatnya itu harus tertahan sementara karena smartphone miliknya dicuri di salah satu pusat perbelanjaan di kota kelahiran saya, Mojokerto. Maka dari itu saya sangat ingin membelikannya smartphone baru agar dia bisa merealisasikan apa yang menjadi mimpinya. Karena masih terbayang dengan jelas dalam ingatan saya, sehari sebelum smartphone-nya hilang, dia sempat menunjukkan pada saya model-model baju yang mau dipesannya melalui WA (WhatsApp) untuk kemudian dijual lagi nantinya.

Sebenarnya saya sudah menawari dia untuk membeli smartphone baru dengan menggunakan uang tabungan yang ada, namun dia menolak karena sebelumnya kami berdua sudah sepakat dengan saya bahwa uang tabungan hanya boleh digunakan ketika darurat. Dan karena dia menolaknya, akhirnya mau tidak mau saya harus cari cara lain untuk bisa membelikannya smartphone baru. Semoga saja saya bisa segera menemukan jalan keluarnya. Agar bibit-bibit impiannya untuk bisa punya pendapatan sendiri tidak layu sebelum ditanam. Karena layaknya anak, tidak ada impian yang tidak layak untuk diperjuangkan.

Untuk masalah merk handphone, dengan banyaknya model smarthpone yang ada sekarang ini, saya sempat kebingungan untuk memilih model smarthpone apa yang kira-kira pantas buat istri saya. Dan setelah saya melihat-lihat sekilas di salah satu e-commerce paling terkenal di Indonesia, Oppo F1s mungkin akan jadi pilihan saya. Karena di Elevenia, Oppo F1s merupakan salah satu smatphone Android paling laris dan mendapatkan banyak respon positif dari pembelinya. Apalagi harganya juga tidak terlalu mahal. Cuma sekitar 3 jutaan.

Tapi mengingat istri saya sangat suka dengan smartphone LG, pernah 2 kali memakai smartphone LG dan dua-duanya bernasib sama, dicuri di pusat perbelanjaan, sepertinya saya akan membelikannya smartphone LG K10 (2017). Dengan dukungan internet 4G ditambah dengan kamera yang lumayan memadai (13MP) dan kapasitas baterai yang lumayan besar (2800 mAh), semoga istri saya bisa menggunakannya untuk mewujudkan mimpinya untuk bisa mendapatkan pendapatan sendiri dengan cara berjualan pakaian muslimah.

Karena bagi saya, seorang istri itu sudah semestinya punya pendapatan sendiri. Entah itu dengan bekerja di luar atau dengan bekerja di rumah. Kenapa seorang istri harus punya pendapatan sendiri? agar jika terjadi sesuatu pada suaminya (sakit, meninggal, cerai, dlsb.), kualitas hidupnya dan anak-anaknya bisa tetap terjaga. Dia tetap bisa hidup dengan layak tanpa harus menggantungkan hidupnya pada orang lain.

Dan karena tugas suami adalah menjaga kehormatan keluarga, sudah semestinya para suami memperbolehkan istrinya untuk mempunyai pendapatan sendiri. Sehingga ketika suami sudah tidak ada, istri tetap bisa meneruskan perjuangan untuk menjaga kehormatan keluarga dan tidak sampai menggadaikan kehormatannya untuk mengemis atau melakukan hal-hal yang melanggar norma agama dan norma hukum yang ada.

Advertisements

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s