Tersulut Klepon

Beberapa hari terakhir ini, jagat internet di Indonesia sedang diramaikan oleh gambar klepon dengan caption yang sungguh sangat tendensius.

Saya sendiri pertama kali menemukan gambar di atas di Twitter. Dan dalam waktu sekejab, gambar tersebut langsung ramai menjadi bahasan di banyak sekali social media. Sampai akhirnya menjadi bahasan di berbagai story WA.

Dan setelah viral di mana-mana, barulah diketahui kalau ternyata foto tersebut merupakan foto editan yang saya sendiri belum tahu apa motif utamanya.

Dan meskipun saat ini foto tersebut sudah dibantah sebagai hoax, nyatanya masih banyak sekali orang yang membahas foto tersebut dan masih menyangkutpautkan ‘klepon tidak islami’ sebagai bagian dari bahasannya.

Sebagian besar yang masih terus membahas kue klepon ini adalah orang-orang pro pemerintah yang sering mengejek para pengkritik pemerintah sebagai ‘kadrun’ (kadal gurun). Dan kalau ditelusuri lebih jauh lagi, orang-orang yang menyebarkan meme ini di Twitter merupakan orang-orang yang dikenal sebagai buzzer politik pro pemerintah.

Jadi, sangat besar kemungkinan meme ini disebar dengan misi yang tidak main-main. Apakah itu untuk membuat orang-orang abai terhadap isu atau kebijakan pemerintah terbaru, ataukah untuk tujuan yang lain. Yang jelas, foto klepon tersebut secara viralitas sangat sukses sekali.

Saya sangat yakin kalau gambar tersebut dibuat dengan melalui proses riset mendalam oleh orang-orang yang paham teori psikologi dan komunikasi. Karena konten klepon tersebut sangat unik dan ‘segar’. Terlepas dari tujuannya, secara ide konten klepon tersebut sangat luar biasa.

Saya yakin konten tersebut dilatarbelakangi oleh masyarakat kita yang begitu mudah terlena oleh segala hal yang dilabeli dengan agama. Bahkan lebih jauh dari itu, masih banyak di antara masyarakat kita yang kesulitan mana membedakan mana produk budaya, mana produk agama. Yang paling jelas salah satunya adalah masalah pohon cemara. Masih banyak yang mengasosiasikan pohon cemara sebagai pohon ‘kristen’ hanya karena banyak yang menggunakan pohon tersebut sebagai hiasan natal. Padahal faktanya, penggunaan pohon cemara salah satunya adalah karena cemara merupakan di antara pohon yang daunnya tidak berguguran di musim dingin. Sementara pohon-pohon yang lain di negara 4 musim rata-rata daunnya berguguran dan kurang bagus jika dijadikan ornamen di dalam rumah.

Belajar dari kasus foto klepon tersebut, ada baiknya kita mulai berhati-hati menggunakan social media. Apalagi jika menyangkut hal-hal yang sensitif seperti agama. Karena tentu kita tidak ingin ada konflik horizontal hanya karena sebuah gambar klepon saja.

Sumbu pendek itu nyata adanya. Jangan sampai kita ikut menjadi orang-orang yang mudah digiring dengan sebuah info yang belum jelas kebenarannya. Karena faktanya, tidak hanya orang-orang fundamentalis saja yang mudah nyinyir dan membagikan konten tanpa kroscek lebih dulu. Orang-orang yang konon menganggap dirinya ‘moderat’ dan ‘berpendidikan’ pun ternyata sama saja. Punya sumbu yang begitu mudahnya tersulut oleh klepon yang notebene tidak ada apinya.

Published by @kamuitubeda

Full-time husband and father. Part-time content maker and web developer.

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: