Pentingnya Menaati Ulil Amri

Semenjak Covid-19 merebak, semakin banyak fenomena-fenomena sosial baru yang bermunculan. Salah satu fenomena baru yang muncul sejak adanya pandemi Covid-19 adalah semakin santernya teori konspirasi. Yang kemudian melahirkan pemahaman-pemahaman yang ‘aneh tapi nyata’. Mulai dari yang menganggap Covid-19 tidak berbahaya, sampai menganggap memakai masker itu membahayakan nyawa pemakainya. Rasanya hampir tiap hari ada pendapat-pendapat yang semakin aneh. Dan sedihnya, yang aneh-aneh semacam itu sangat mudah menyebar di media sosial dan grup WA.

Sejak adanya pandemi Covid-19, saya termasuk orang yang cukup konservatif. Hampir jarang sekali saya keluar kota sejak bulan Februari sampai sekarang. Sejak Februari sampai awal Agustus ini, saya hanya sekali keluar kota. Yaitu pulkam ke Mojokerto pas akhir Juni untuk menghadiri acara keluarga. Setelah pemerintah mengumumkan ‘new normal’ yang menurut saya tidak ada normal-normalnya sama sekali.

Sebagai seorang yang bekerja di dunia IT, saya sangat bersyukur bisa bekerja dari rumah mulai dari awal pandemi sampai sekarang. Jadi praktis saya tidak mengalami dampak dari Covid-19 secara langsung. Apalagi kantor saya berada di Surabaya yang merupakan pusat penyebaran Covid-19 di Jawa Timur. Jadi, semenjak awal pandemi saya mendapatkan dispensasi untuk tidak ngantor sama sekali. Dari yang sebelumnya ngantor sebulan 2-3 hari.

Satu hal yang membuat saya sedih akhir-akhir ini adalah semakin banyaknya orang yang berbicara di depan publik mengenai hal-hal yang sebenarnya tidak benar-benar dikuasai. Bahkan tidak jarang orang-orang tersebut merupakan publik figur yang mempunyai banyak penggemar. Dengan dalih kebebasan berpendapat, banyak yang secara sembrono membicarakan teori kesehatan tanpa pernah belajar ilmu kesehatan sama sekali.

Dari fenomena tersebut, saya jadi teringat salah satu mutiara yang sempat saya temukan akhir-akhir ini. Bagi kita yang muslim, tentu kita sudah sering atau minimal pernah mendengar ayat Al-Quran yang berbunyi: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan Ulil Amri di antara kalian.”

Satu hal yang menarik dari ayat tersebut adalah, siapa sebenarnya yang disebut Ulil Amri? apakah mutlak pemerintah? ternyata tidak. Kalau menurut KH. Afifuddin Muhajir, Situbondo, yang dimaksud dengan Ulil Amri adalah orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Jadi kalau dalam hal kesehatan, yang jadi Ulil Amri tentu adalah para pakar dan praktisi kesehatan seperti dokter. Sementara dalam bidang agama, yang menjadi Ulil Amri adalah para ahli ilmu agama. Begitu seterusnya. Kuncinya adalah pada kompetensi.

Jadi, kalau memang yang menjadi soal adalah kesehatan, sudah semestinya kita mendahulukan pendapat dan saran dari para ahli kesehatan daripada pendapat influencer atau artis yang tidak pernah belajar ilmu kesehatan.

“Jika suatu urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggu saja kehancurannya,” begitu salah satu redaksi hadits yang sangat terkenal. Karena itulah yang dinamakan “berlaku adil sejak dalam pikiran”, kalau meminjam istilahnya Pramoedya Ananta Toer.

Dan kini terbukti, negara-negara yang mengikuti arahan tenaga medis dan ahli kesehatan sejak awal pandemi, menjadi negara-negara yang paling awal sukses menangani penyebaran virus Covid-19. Sementara negara-negara yang pemerintahnya lebih peduli neraca ekonomi daripada mendengarkan pendapat ahli sampai saat ini masih belum jelas kapan kurvanya akan mengalami penurunan. Akhir kata, semoga kita semua diberikan kesehatan dan keselamatan melewati pandemi Covid-19 ini.

Published by @kamuitubeda

Full-time husband and father. Part-time content maker and web developer.

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: