Membuka Peluang Iuran

Hari ini saya berkesempatan untuk kembali bertatap muka dengan Pak Anies Baswedan. Tidak lama sih, cuma sekitar 45 menit. Tapi meskipun sebentar, sebagaimana pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan Pak Anies Baswedan, selalu ada hal yang menarik untuk dibagikan.

Secara umum, dalam pertemuan yang singkat tadi siang, Pak Anies Baswedan masih membicarakan hal yang selama ini menjadi perhatiannya: mengatasi masalah sosial dengan urunan dan membudayakan gerakan. Dan di sela-sela itu, Pak Anies Baswedan juga sempat menyinggung soal Perpustakaan Asuh yang kemudian lebih banyak dikenal sebagai Indonesia Menyala.

Selama ini saya hanya tahu bahwa Indonesia Menyala adalah sebuah gerakan yang bertujuan untuk mengembangkan perpustakaan di banyak daerah (khususnya daerah yang menjadi tempat penempatan pengajar muda gerakan Indonesia Mengajar). Dan setelah Pak Anies Baswedan menjelaskan secara rinci, saya jadi agak paham bagaimana behind the scene yang ada di gerakan Indonesia Menyala. Continue reading

Kuliah di Mana Ya?

Masih jelas terbayang dalam benak saya bagaimana galaunya saya ketika memasuki masa-masa akhir pendidikan di jenjang SMA. Kegalauan saya waktu SMA bukanlah takut menghabiskan masa SMA dengan status jomblo. Bukan. Bukan itu. Saya yang sudah terbiasa jomblo sejak lahir memang tidak terlalu berminat untuk mengakhiri masa jomblo saya selama 17 tahun itu di bangku SMA.

Sama seperti halnya siswa SMA lainnya, kegalauan saya waktu menjelang kelulusan SMA itu disebabkan oleh 2 hal: UN dan perasaan bingung mau melanjutkan ke mana setelah SMA.
Meskipun sejak kelas X SMA saya memang sudah punya minat yang lumayan terhadap komputer, menjelang lulus, saya sempat bingung mau melanjutkan ke mana selepas SMA. Karena meskipun punya minat, minat saya waktu itu mungkin seperti halnya minat remaja saat ini pada gadget-gadget terbaru saat ini. Karena efek perkembangan zaman saja. Bukan benar-benar karena suka bikin program, ikut olimpiade komputer atau semacamnya.

Sebelum akhirnya memutuskan memilih Teknik Informatika, saya sempat disarankan oleh orang tua untuk mengambil jurusan pendidikan, pendidikan dokter, atau farmasi Unair. Waktu itu, saya sempat mau daftar ke Unair melalui jalur PMDK (kalau sekarang mirip SNMPTN), tapi akhirnya saya urungkan niat saya. Mengingat waktu SMA saya memang punya kenangan buruk dengan pelajaran-pelajaran yang identik dengan hafalan semacam Biologi dan Sejarah.

Setelah mengurungkan niat untuk daftar ke FK atau Farmasi Unair, saya sebenarnya masih berminat untuk masuk ke Unair, tepatnya ke jurusan Psikologi. Meskipun saat itu masih belum yakin sepenuhnya, saya merasa saya punya minat cukup lumayan terhadap dunia Psikologi. Dan beberapa tahun setelah itu, ketika saya mencoba tes kepribadian di sini, barulah saya paham kalau saya memang ada minat di sana.

Selain jurusan Psikologi, saya juga sempat berniat masuk ke Teknik Kimia. Mengingat waktu SMA, Kimia merupakan salah satu dari 2 mata pelajaran yang lumayan saya mengerti. Selain matematika. Tapi karena menurut cerita salah satu teman saya, di Teknik Kimia masih ada Fisika, akhirnya saya mengurungkan niat saya.

Dan singkat cerita, setelah melalui banyak pertimbangan, akhirnya saya memutuskan memilih Teknik Informatika dan Sistem Informasi. Dan alhamdulillah, diterima di Teknik Informatika.
Ini dari tadi kok cerita pengalaman terus sih, sebenarnya mau ngomongin apa? Continue reading

Balada Pencitraan

Ada beberapa fenomena yang menarik di sepanjang proses kampanye pemilihan presiden tahun ini. Salah satunya adalah semakin maraknya perilaku menghakimi niat dari tindakan seseorang.

Entah sejak kapan kita mulai akrab dengan istilah pencitraan. Istilah pencitraan sendiri sebenarnya bukanlah sebuah aktivitas yang negatif. Karena kalau diterjemahkan secara harfiah, pencitraan tidak lain adalah aktivitas membangun citra, yang biasa kita kenal sebagai branding.

Jauh sebelum istilah pencitraan ini booming, aktivitas pencitraan sudah sering dilakukan oleh berbagai macam perusahaan untuk mengenalkan produknya kepada masyarakat. Mulai dari menggunakan tagline, menggunakan logo, maskot, menggunakan iklan, itu semua adalah contoh pencitraan yang dilakukan oleh perusahaan. Continue reading

60 Detik Aja

Setelah sekian lama vakum dari dunia tulis-menulis, nggak kebayang kalau akhirnya yang bikin saya menulis lagi adalah perihal politik. Suatu bidang yang selama hampir 20 tahun lebih saya benci. Sampai akhirnya saya dipertemukan dengan orang-orang yang membuka pikiran saya bahwa yang buruk itu bukan politiknya, melainkan cara berpolitiknya. Sama halnya itu, mau kita kita berkecimpung di dunia bisnis, pendidikan, hukum, atau apapun itu, yang membuat terhormat adalah cara kita menjalaninya.

Teman, 2 hari lagi kita akan melaksanakan pemilihan presiden. Sebuah momen yang akan menentukan masa depan bangsa kita selama 5 tahun ke depan. Kalau kalian masih berpikir bahwa satu suara kalian tidaklah membawa dampak apapun bagi perubahan, ada baiknya kalian coba renungkan gambar berikut ini:

Buta Politik | © iipx.blogspot.com
Buta Politik | © iipx

Continue reading

Mengubah Kurikulum, Terus?

Sejak ikut turuntangan, saya jadi semakin banyak tahu tentang pemikiran seorang Anies Baswedan. Salah satu pemikiran Anies Baswedan yang menarik menurut saya adalah tentang pendidikan. Meski Anies Baswedan secara khusus tidak pernah belajar di jurusan pendidikan, saya merasa Beliau punya gambaran yang jelas bagaimana seharusnya proses pendidikan dilaksanakan. Bisa jadi itu efek dari Ibu Aliyah yang merupakan salah satu guru besar di UNY. Jadi, meskipun tidak pernah mengambil jurusan pendidikan di perkuliahan, beliau sudah sering belajar langsung melalui contoh bagaimana seorang Ibu Aliyah mendidik Anies Baswedan sehingga bisa menjadi seperti sekarang.

Bicara masalah pendidikan, dalam beberapa tahun terakhir ini, pendidikan mengalami banyak sekali perubahan. Mulai dari wacana penggunaan hasil UN sebagai instrumen seleksi masuk perkuliahan sampai masalah kurikulum 2013 yang masih sering menjadi perdebatan. Continue reading

Mengapa (Harus) Membaca?

Menulis, apalagi menulis esai, paling asik dimulai dari apa yang kita ketahui atau apa yang kita alami

Itu adalah salah satu kalimat dari Zen RS yang paling saya ingat ketika menghadiri workshop Esai yang diadakan oleh teman-teman Forum Muda Paramadina pada hari Rabu, 19 Maret 2014 di Perpustakaan Bank Indonesia di Jalan Taman Mayangkara No. 6 Surabaya.

Sudah lama saya mengagumi Zen. Seingat saya, saya pertama kali tahu Zen dari sidebar yang ada di blog Gus Mustova kalau nggak dari blog Kang Iman Brontoseno. Dari sana, saya kemudian rajin mengunjungi blog Zen dan kemudian follow akun twitternya. Sampai sekarang ketika Zen aktif menjadi salah satu kontributor di Yahoo saya masih tetap mengikuti beberapa tulisannya, meski tidak semuanya.

Saya akui, saya memang lebih suka tulisan-tulisan ringan seperti novel, komik, dan semacamnya. Maka dari itu, saya mengidolakan Andrea Hirata, Dan Brown, Tetsuko Kuroyanagi, Michael Scott, dan juga Eiichiro Oda. Tapi bukan berarti saya tidak suka jenis tulisan yang lainnya. Sama halnya dengan selera musik. Saya tidak pernah membatasi selera musik saya pada salah satu genre saja. Apapun genrenya, selama itu membuat saya betah mendengarkannya pasti akan saya dengarkan. Continue reading