Mengubah Kurikulum, Terus?

Sejak ikut turuntangan, saya jadi semakin banyak tahu tentang pemikiran seorang Anies Baswedan. Salah satu pemikiran Anies Baswedan yang menarik menurut saya adalah tentang pendidikan. Meski Anies Baswedan secara khusus tidak pernah belajar di jurusan pendidikan, saya merasa Beliau punya gambaran yang jelas bagaimana seharusnya proses pendidikan dilaksanakan. Bisa jadi itu efek dari Ibu Aliyah yang merupakan salah satu guru besar di UNY. Jadi, meskipun tidak pernah mengambil jurusan pendidikan di perkuliahan, beliau sudah sering belajar langsung melalui contoh bagaimana seorang Ibu Aliyah mendidik Anies Baswedan sehingga bisa menjadi seperti sekarang.

Bicara masalah pendidikan, dalam beberapa tahun terakhir ini, pendidikan mengalami banyak sekali perubahan. Mulai dari wacana penggunaan hasil UN sebagai instrumen seleksi masuk perkuliahan sampai masalah kurikulum 2013 yang masih sering menjadi perdebatan. Continue reading

Mengapa (Harus) Membaca?

Menulis, apalagi menulis esai, paling asik dimulai dari apa yang kita ketahui atau apa yang kita alami

Itu adalah salah satu kalimat dari Zen RS yang paling saya ingat ketika menghadiri workshop Esai yang diadakan oleh teman-teman Forum Muda Paramadina pada hari Rabu, 19 Maret 2014 di Perpustakaan Bank Indonesia di Jalan Taman Mayangkara No. 6 Surabaya.

Sudah lama saya mengagumi Zen. Seingat saya, saya pertama kali tahu Zen dari sidebar yang ada di blog Gus Mustova kalau nggak dari blog Kang Iman Brontoseno. Dari sana, saya kemudian rajin mengunjungi blog Zen dan kemudian follow akun twitternya. Sampai sekarang ketika Zen aktif menjadi salah satu kontributor di Yahoo saya masih tetap mengikuti beberapa tulisannya, meski tidak semuanya.

Saya akui, saya memang lebih suka tulisan-tulisan ringan seperti novel, komik, dan semacamnya. Maka dari itu, saya mengidolakan Andrea Hirata, Dan Brown, Tetsuko Kuroyanagi, Michael Scott, dan juga Eiichiro Oda. Tapi bukan berarti saya tidak suka jenis tulisan yang lainnya. Sama halnya dengan selera musik. Saya tidak pernah membatasi selera musik saya pada salah satu genre saja. Apapun genrenya, selama itu membuat saya betah mendengarkannya pasti akan saya dengarkan. Continue reading

Faith in Humanity Restored

Beberapa hari yang lalu, saya mengalami sebuah kejadian yang cukup luar biasa.

Sesaat setelah menghadiri kumpul relawan turuntangan Surabaya di salah satu restoran cepat saji di kawasan Darmo, motor saya rantainya putus. Sebenarnya bukan sekali ini saja saya mengalami putus rantai. Dulu setelah ikut acara yang menghadirkan Gus Candra Malik sebagai pembicara juga pernah. Lokasinya pun tidak jauh dari tempat motor saya rantainya putus kemarin. Berhubung waktu itu pulangnya bareng teman jadi lebih mendingan karena ada yang kenal. Jadi tidak terlalu sungkan untuk meminta bantuan.

Tapi apa yang saya alami beberapa hari yang lalu ini berbeda. Saya pulang sendirian. Kesepian. Tidak ada teman. Continue reading

Berhenti Ngeblog?

Sejak mengalami penurunan jumlah pengunjung yang sangat drastis, saya memang agak merasa malas menulis di blog ini lagi. Miris ya? ternyata saya sama saja, menulis karena ingin tulisannya dibaca.

Dan setelah saya pikir-pikir lagi, apa mungkin hanya karena tidak ada yang membaca lagi saya harus berhenti menulis? Apakah saya wafatkan sekalian saja blog saya yang satu ini dan memulai semuanya dari awal lagi? blog hanya sebuah jalan, bukan tujuan. Jadi, sah-sah saja kita pindah tempat ngeblog kan? Continue reading

Lists Twitter? Buat Apa Sih?

Meskipun sudah punya akun Twitter sejak negara api menyerang pertengahan 2009, saya baru paham penggunaan fitur list tahun kemarin. (oke, sebagai pengguna Twitter saya merasa gagal)

Dulu saya menganggap fitur list itu hanya buat mengklasifikasikan orang-orang yang sudah kita follow. Persis seperti halnya circle yang ada di google+ gitu lah kira-kira. Sebelum akhirnya tahu kalau ternyata kita tidak harus follow untuk bisa memasukkan akun tersebut ke dalam list yang kita buat. Dan sejak saat itu, saya mulai punya ide untuk memanfaatkan list.

Seperti yang kalian tahu, saya ini seorang Gooner (pendukung Arsenal). Sudah menjadi kebiasaan kalau setiap fans suatu tim sepakbola selalu ingin mendapat kabar terbaru tentang tim yang mereka dukung. Mulai dari kondisi pemain, kemungkinan transfer pemain, skor pertandingan, apapun itu. Rasanya kurang lengkap kalau sehari saja tidak mengikuti perkembangan terbaru dari tim yang mereka dukung. Maka dari itu, jangan kaget kalau media menyediakan porsi yang cukup banyak untuk olahraga yang satu ini. Karena sebagian besar supporter sepakbola adalah supporter fanatik. Eric Cantona (legenda Manchester United) saja bahkan pernah berucap seperti ini: Continue reading

Mulai dari Awal

Jujur, tidak pernah terbayangkan sebelumnya melihat MU menjadi bahan hujatan di musim ini. Meski pelatihnya ganti, komposisi pemain MU musim ini hampir sama dengan komposisi pemain MU yang memenangkan gelar pada musim lalu. Tidak mengherankan kalau kemudian banyak yang meragukan kapasitas Moyes sebagai seorang pelatih. Karena kasus Sir Alex dan Moyes sungguh berbeda. Tentu kita tidak bisa membandingkan MU ketika pertama kali dilatih oleh Sir Alex dengan MU ketika pertama kali dilatih oleh Moyes. Ketika pertama kali melatih MU, Sir Alex mendapat warisan tim medioker. Tidak seperti Moyes yang mendapat warisan tim juara.

Kalau boleh jujur, saya sendiri sebenarnya lebih suka melihat MU seperti sekarang. Karena beberapa tahun terakhir ini fans MU merasa bahwa tim mereka sudah pasti mendapat jaminan masuk 4 besar setiap tahunnya. Era keemasan Sir Alex sepertinya telah membuat sebagian fans MU lupa bahwa setiap kejayaan ada masa berakhirnya. Apa mereka lupa bahwa ada tim seperti Leeds United dan Blackburn Rovers yang dulu sempat jaya tapi sekarang sudah tidak berada di kasta tertinggi liga Inggris lagi? Continue reading

About Time

Lesson Number One: All the time traveling in the world can’t make someone love you.

Itulah pesan pertama yang diperoleh Tim melalui perjalanan lintas waktunya. Sebelum diberi tahu oleh ayahnya, Tim-dan mungkin banyak di antara kita-mengira bahwa perjalanan lintas waktu akan bisa mengubah seseorang dari sebelumnya tidak cinta menjadi cinta. Tapi ternyata setelah membuktikannya sendiri, bukan seperti itu hasilnya. Kalaupun ada, yang bisa kita ubah dengan perjalanan waktu adalah perbuatan kita, bukan respon orang lain terhadap perbuatan kita.

Itu adalah salah satu potongan bagian dari film About Time. Salah satu film romantis terbaik yang pernah saya tonton kalau boleh jujur. Sudah lama sekali saya tidak menonton film yang cukup romantis tapi di saat yang sama juga memberikan banyak pelajaran berharga seperti yang diberikan oleh film About Time.

Film yang sangat cocok ditonton oleh semua orang. Khususnya yang butuh hiburan dan pencerahan.