Mencintai Apanya Ataukah Mencintai Apa Adanya

“I really like Arsenal. But you, Do you really like Arsenal? or just Arsenal with trophies?”

Gara-gara timeline twitter saya banyak dihiasi oleh ucapan Dennis Bergkamp di atas, saya jadi teringat sama tulisan bang @newsplatter di blognya beberapa waktu silam.

“Seringkali, kita jatuh cinta dengan imajinasi kita sendiri tentang sosok pasangan yang sempurna. Kita bertemu seseorang yang belum benar-benar kita kenal, kemudian kita mulai berangan-angan bahwa “inilah orangnya”, sosok ideal yang kita cari-cari selama ini. Masalah pun mulai muncul ketika ilusi kita mulai memudar. Kita akhirnya melihat “versi asli” dari orang yang kita bayangkan sebagai sosok ideal tersebut. Dan tragisnya, kita menuduh bahwa orang yang kita anggap ideal tersebut telah berubah. Padahal kenyataannya pandangan kitalah yang menjadi lebih terbuka.

Seringkali, kita jatuh cinta bukan dengan orangnya, tapi dengan “jalan keluar” yang dibawanya. Kita merasa kesepian, kita tidak ingin merasa sendiri dan sengsara, kemudian kita melihat orang yang kita temui ini sebagai sebuah “solusi” atas rasa kesepian kita. Kemudian, kita jatuh cinta pada solusi yang dibawanya, bukan benar-benar cinta pada orangnya.  

Beberapa orang yang lain jatuh cinta dengan “agenda”. Kita telah membuat rencana hidup kita: kapan saatnya mencari pasangan, kapan waktunya menikah, kapan waktunya punya anak, dan lain sebagainya. Dan kemudian kita melihat orang yang kita temui ini sebagai jawaban atas agenda-agenda hidup kita tadi. Untuk yang kesekian kali, kita jatuh cinta, bukan pada orangnya. Tapi pada solusi yang dibawanya atas agenda hidup kita.

Beberapa orang yang lain lagi jatuh cinta pada “obat” yang dibawanya. Kita merasa sakit hati, kita punya trauma di masa lalu, kemudian kita menemukan orang ini sebagai orang yang kita pikir bisa menyembuhkan semua luka kita. Pada saat itu, kita sebenarnya sedang jatuh cinta pada “obat” yang dibawanya. Bukan benar-benar jatuh cinta pada orangnya.   

Dan sedikit orang yang beruntung, menemukan orang yang satu ini, mengenali isi hatinya dengan baik, dan kemudian kita jatuh cinta padanya. Dan sedikit yang beruntung selanjutnya, jatuh cinta, sepenuhnya pada orangnya.”
Seorang yang mencintai kita karena harta, suatu saat pasti meninggalkan kita karena harta tersebut. Seorang yang mencintai kita karena status/jabatan yang kita punya, suatu saat pasti akan meninggalkan kita karena status/jabatan tersebut. Seorang yang mencintai kita karena cinta kepada Tuhannya, dia tidak akan pergi ke mana-mana. Kecuali dia sudah tidak lagi cinta kepada Tuhannya.

Mencintai orang di saat orang tersebut sukses itu mudah. Mempertahankan komitmen agar tetap cinta meskipun pasangan kita sedang mendapatkan banyak masalah, itulah yang susah.

 

“I really like Arsenal. But you, Do you really like Arsenal? or just Arsenal with trophies?”

*) nb: postingan bang @newsplatter sengaja saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia biar lebih mudah dimengerti oleh semua yang mengunjungi blog saya.

Advertisements

One thought on “Mencintai Apanya Ataukah Mencintai Apa Adanya

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s